Kamis, 24 Juni 2021

Cara Berpikir Diakronik

Cara Berpikir Diakronik

Cara Berpikir Diakronik - Cara berpikir diakronik adalah konsep yang digunakan untuk memahami peristiwa sejarah. Memahami sejarah sebagai urutan peristiwa saja ternyata belum dirasa cukup. Suatu peristiwa sejarah dapat dipelajari secara lengkap apabila dapat dipahami sebagai proses yang berlangsung selama rentang waktu tertentu.

Dengan begitu akan mudah untuk mengetahui apakah suatu peristiwa sejarah berkaitan dengan sejumlah peristiwa lainnya. Pasalnya, suatu peristiwa sejarah apa pun ditentukan oleh peristiwa yang telah mendahuluinya. Cara mempelajari sejarah sebagai proses waktu seperti itulah yang dinamakan dengan konsep berpikir diakronik.

Kata Diakronik secara etimologis berasal dari Bahasa latin yaitu “dia” yang artinya melalui atau melampaui dan “chronicus” yang memiliki arti waktu. Jadi, berpikir diakronik dalam sejarah dapat didefinisikan sebagai menganalisis atau menelusuri suatu peristiwa dari awal kejadian hingga akhir.

Dengan konsep berpikir diakronik ini, sejarah dapat dipahami sebagai rangkaian atau peristiwa yang saling berhubungan antara satu dengan yang lain. Dimana, sejarah bukan hanya sekedar urutan peristiwa melainkan runutan peristiwa yang saling mempengaruhi dan dipengaruhi.

Fungsi dari konsep berpikir diakronik sendiri untuk memahami peristiwa sejarah sebagai perkembangan dari proses pembelajaran. Pengalaman yang terjadi di masa lalu dapat menjadi pelajaran untuk manusia menjadi lebih baik di masa kini dan masa mendatang.

Adapun ciri dari konsep berpikir diakronik antara lain:

1. Melihat masyarakat sebagai sesuatu hal yang terus bergerak atau dinamis dan memiliki hubungan kausalitas atau sebab-akibat. Berdasarkan pengertian ini maka ada aksi tentu ada reaksi;
2. Mempelajari kehidupan sosial secara memanjang dengan berdimensi waktu; dan
3. Menguraikan proses transformasi yang terus berlangsung dari waktu ke waktu secara berkesinambungan.

 

Sabtu, 13 Februari 2021

Migrasi Bangsa-Bangsa di Kepulauan Indonesia

Migrasi Bangsa-Bangsa di Kepulauan Indonesia

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Kepulauan Indonesia sedari dulu merupakan tempat destinasti bagi bangsa-bangsa di berbagai wilayah di dunia. Perlu diketahui bahwa berbagai bentuk warisan kebudayaan terutama warisan kebudayaan yang berasal dari zaman mesolitihikum, neolithikum dan perundagian tersebar di Kepulauan Indonesia tidak datang dengan sendirinya, melainkan berasal dari kebudayaan masyarakat yang sebelumnya berasal dari luar Kepulauan Indonesia.

Meskipun begitu, bukan berarti bahwa masyarakat Kepulauan Indonesia sebelumnya tidak memiliki kebudayaan. Yang terjadi, adalah suatu proses akulturasi dari kebudayaan Indonesia dengan kebudayaan pendatang. Manusia pendukung yang berperan aktif dalam proses penyebaran kebudayaan itulah merupakan suatu bangsa yang melakukan perpindahan atau migrasi dari daratan Asia ke kepulauan Indonesia, bahkan pada gilirannya pula juga bermigrasi ke pulau-pulau yang tersebar di Samudera Pasifik. Di bawah ini adalah penjelasan tentang migrasi bangsa-bangsa di Kepulauan Indonesia.


Bangsa yang bermigrasi ke Indonesia berasal dari daratan Asia, tepatnya dari daerah Yunan, yang terletak di Barat Daya Cina. Orang-orang Yunan ini bergerak menuju selatan memasuki daerah Indochina dan terus ke selatan menuju ke Kepulauan Indonesia. Bangsa tersebut adalah bangsa Melanesia atau disebut juga dengan Papua Melanosoid yang merupakan rumpun bangsa Melanosoid atau Ras Negroid. Bangsa ini merupakan gelombang pertama yang bermigrasi ke Indonesia. Sedangkan bangsa Melayu yang merupakan rumpun bangsa Austronesia termasuk golongan Ras Malayan Mongoloid datang belakangan.


Bangsa Melayu ini melakukan perpindahan menuju Kepulauan Indonesia dua gelombang, yaitu sebagai berikut;
 

1. Gelombang pertama tahun 2000 SM, menyebar dari daratan Asia ke Semenanjung Melayu, Indonesia, Philipina dan Formosa serta Kepulauan Pasifik sampai Madagaskar yang disebut dengan Proto Melayu. Bangsa ini masuk ke Indonesia melalui dua jalur, yaitu jalur barat dan timur, dan membawa kebudayaan Neolithikum (Batu Muda).
 

2. Gelombang kedua tahun 500 SM, disebut dengan bangsa Deutro Melayu. Bangsa ini masuk ke Indonesia membawa kebudayaan logam (perunggu).

Demikianlah sedikit pembahasan mengenai sejarah Migrasi bangsa-bangsa di Kepulauan Indonesia.

Jumat, 12 Februari 2021

Masyarakat pra-aksara di Indonesia

Masyarakat Pra-aksara di Indonesia

Kepulauan Indonesia adalah wilayah yang sangat kaya dengan peninggalan sejarah dari masa pra-aksara. Melalui temuan-temuan artefak maupun fosil dapat pula digambarkan kehidupan masyarakat pra-aksara di Indonesia. Di bawah ini akan dijelaskan tentang masyarakat pra-aksara Indonesia secara singkat berdasarkan jenis-jenis masyarakat pendukung zaman pra-aksara di Indonesia.

Manusia yang hidup pada zaman pra-aksara sekarang sudah berubah menjadi fosil. Fosil manusia yang ditemukan di Indonesia terdiri dari beberapa jenis. Hal ini diketahui dari hasil ekskavasi (penggalian) yang dilakukan oleh para ahli dari Eropa pada abad ke-19. Para ahli dari Eropa ini memiliki ketertarikan tentang manusia purba yang terdapat di Indonesia.

Fosil manusia purba yang merupakan pendukung masyarakat pra-aksara di Indonesia ditemukan pertama kali di daerah Trinil, Jawa Timur oleh Eugene Dubois. Temuan Eugene Dubois ini telah menarik perhatian dari para ahli yang lain untuk datang ke Pulau Jawa dan mengadakan penelitian yang serupa. Selanjutnya, penyelidikan fosil manusia dilakukan oleh G.R.H. von Koeningswald, Ter Har, dan Oppenoorth serta F. Weidenrech. Mereka berhasil menemukan fosil manusia di daerah Sangiran, Ngandong, di lembah Sungai Bengawan Solo.

Jenis-Jenis Masyarakat Pra-aksara di Indonesia

Berdasarkan temuan fosil-fosil yang terdapat di Lembah Sungai Bengawan Solo tersebut, von Koeningswald membagi zaman Dilluvium atau yang disebut juga dengan zaman Pleistosen di Indonesia menjadi 3 lapisan, yaitu sebagai berikut:

 

1. Pleistosen bawah/Lapisan Jetis.

2. Pleistosen Tengah/lapisan Trinil

3. Pleistosen Atas/lapisan Ngandong.


Penyelidikan fosil mausia selain dilakukan oleh orang-orang Eropa juga dilakukan oleh para ahli yang berasal dari Indonesia sendiri, seperti Prof. Dr. Sartono, Prof. Dr. Teuku Jacob, Dr. Otto Sudarmadji dan Prof. Dr. Soejono.


Lokasi penyelidikan yang dilakukan oleh para ahli yang berasal dari Indonesia antara lain di Situs Sangiran dan lembah Sungai Bengawan Solo. Dari hasil penyelidikan tersebut dapat diketahui jenis manusia purba yang hidup di Indonesia. Agar lebih jelas, berikut adalah jenis-jenis masyarakat pra-aksara di Indonesia;

1. Meganthropus Paleojavanicus

Ralph von Koeningswald menemukan fosil tengkorak di Desa Sangiran pada tahun 1941. Tosil tengkorak yang ditemukan oleh von Koenigswald ini berupa tulang rahang bawah, dan gigi yang tampak mempunyai batang yang tegap dan geraham yang berukuran besar.

Oleh von Koenigswald hasil penemuan fosil tengkorak tersebut diberi nama Meganthropus Paleojavanicus yang artinya manusia raksasa tertua dari Pulau Jawa. Berdasarkan dari penanggalan fosilnya, Meganthropus Paleojavanicus tersebut diperkirakan hidup antara 2-1,5 juta tahun yang lalu, dan berasal dari lapisan Jetis jika merujuk pada klasifikasi yang diberikan oleh von Koenigswald.


2. Pithecanthropus Erectus

Dengan kedatangan Eugene Dubouis ke Pulau Jawa pada tahun 1890, Dubois berhasil melakukan ekskavasi di daerah Trinil, Ngawi, Jawa Timur di mana ia menemukan fosil dari tulang rahang dan kemudian tahun 1891 bagian tengkorak dan tahun 1892 ditemukan tulang paha kiri.


Setelah ketiga penemuan itu, kemudian Eugene Dubois mencoba merekonstruksi berdasarkan hasil penemuan fosil-fosil tersebut dan diberi nama Pithecanthropus Erectus, yang artinya: manusia kera yang berjalan tegak. Pithecathropus Erectus terkadang juga dinamakan sebagai Homo Erectus dari Jawa. Homo Erectus diperkirakan hidup antara 1,5 juta-500.000 tahun yang lalu, dan berdasarkan klasifikasi von Koenigswald Homo Erectus berasal dari Pleistosen tengah atau lapisan Trinil itu artinya lebih muda jika dibandingkan dengan Meganthropus Paleojavanicus.

Penemuan-penemuan lainnya pun juga dilakukan di Pulau Jawa dan berhasil ditemukan beberapa spesies yang diduga merupakan bagian dari Homo Erectus seperti Homo Soloensis dan Homo Modjokertensis.


3. Homo

Homo Sapiens adalah jenis manusia purba yang memiliki bentuk tubuh yang sama dengan manusia sekarang. Mereka diyakini telah memiliki sifat sebagaimana manusia sekarang. Kehidupan mereka sangat sederhana, dan hidupnya mengembara. Jenis fosil Homo Sapiens yang ditemukan di Indonesia terdiri dari fosil manusia yang ditemukan di daerah Ngandong, Blora di Sangiran dan Sambung Macan, Sragen Jawa Tengah, lembah Suangai Bengawan Solo tahun 1931-1934.


Fosil ini setelah diteliti oleh von Koeningswald dan Weidenreich diberi nama Homo Sapien Soloensis (Homo Soloensis). Selain temuan di Solo, fosil manusia purba yang berasal dari jenis homo juga ditemukan di daerah Wajak (Tulung Agung) pan tahun 1889 oleh Van Reitschotten yang kemudian fosil ini diteliti oleh Eugene Dubouis. Berdasarkan hasil penelitian Eugene Dubois, fosil ini kemudian diberi nama menjadi Homo Sapiens Wajakensis (Homo Wajak). Berdasarkan klasifikasi yang diberikan oleh von Koenigswald dan berdasarkan pada tempat penemuan kedua fosil manusia di atas berasal dari lapisan Ngandong yang diperkirakan manusia jenis homo ini hidup sekitar 100.000 - 50.000 tahun yang lalu.


Itulah penjelasan singkat tentang masyarakat pra-aksara di Indonesia.

Kamis, 11 Februari 2021

Asal Usul Kata Sejarah

Asal Usul Kata Sejarah

Di dalam kehidupan sehari-hari kita sering mengenal kata sejarah. Kata sejarah sering dipahami oleh masyarakat secara umum sebagai sesuatu hal yang berkaitan dengan masa lampau. Apabila orang ingin mengetahui bagaimana kehidupan masa lalunya, maka orang akan membicarakan sejarah kehidupannya, misalnya, dalam ruang lingkup yang lebih kecil, terdapat sekelompok masyarakat dalam perayaan-perayaan tertentu selalu mengungkap sejarah keluarganya. 

Di Jawa Barat misalnya, ada tradisi “silaturahmi” hari Raya Idul Fitri dengan cara seluruh keluarga itu berkumpul dan dalam perkumpulan itu diungkapkan bagaimana asal usul keluarga tersebut terbentuk. Tradisi ini sering disebut dengan “khaul” keluarga. 

Ada pula sejarah itu diungkapkan pada setiap hari ulang tahun, misalkan ulang tahun lembaga pendidikan pesantren. Dalam perayaan lembaga pendidikan ini akan diungkapkan bagaimana sejarah berdirinya pesantren itu, siapa pendirinya, bagaimana proses berdirinya pesantren tersebut, bagaimana perjuangan yang dilakukan oleh para pendiri dalam membangun pesantren, dan cerita-cerita lainnya. Berdasarkan contoh-contoh tersebut, apakah sejarah itu hanya bicara masa lalu?


Kata sejarah berasal dari bahasa Arab, yaitu Syajaratun, yang berarti pohon kayu. Pohon dalam pengertian ini merupakan suatu simbol, yaitu simbol kehidupan. Di dalam pohon terdapat bagian-bagian seperti batang, ranting, daun, akar, dan buah. Bagian-bagian dari pohon itu memiliki hubungan yang saling terkait dan membentuk pohon tersebut menjadi hidup. Ada dinamika yang bersifat aktif, tidak pasif. Dinamika ini terus-menerus terjadi beriringan dengan waktu dan ruang di mana kehidupan itu ada. Dengan adanya lambang pohon itu, dapat menunjukkan adanya suatu pertumbuhan dan perkembangan.


Kalau kita kaitkan pengertian syajaratun dengan kehidupan manusia, dapatlah mengandung arti bahwa manusia itu hidup akan terus bergerak tumbuh seiring perjalanan waktu dan tempat atau ruang di mana dia berada. Kehidupan bukanlah sesuatu yang diam atau statis, tetapi sesuatu yang terus-menerus tumbuh dan berkembang. Sebagai contoh, manusia dalam kehidupannya mengalami fase-fase tertentu, yaitu fase di dalam kandungan, lahir, bayi dan anak-anak,
 
remaja, dewasa, dan orang tua. Fase-fase kehidupan tersebut menunjukkan adanya kesinambungan dalam kehidupan manusia. Kesinambungan itu terjadi karena manusia dalam kehidupannya diikat oleh waktu dan ruang. Ada masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang, ketiga-tiganya menunjukkan adanya kesinambungan. Masa lalu akan menentukan masa sekarang, dan masa sekarang akan menentukan masa depan.Waktu dalam pengertian ini dapat diartikan jam, hari, minggu, bulan, tahun, dan bentuk waktu yang lainnya. Ruang adalah tempat di mana manusia itu tinggal, misalkan di desa, kota, kampung, dusun, dan lain-lain. Dengan uraian contoh tersebut, dapatlah dinyatakan bahwa ciri penting dari sejarah adalah adanya konsep waktu dan ruang. Jadi, sejarah pada dasarnya bukan hanya bicara masa lalu, sejarah pada dasarnya berbicara kehidupan manusia dalam konteks waktu dan ruang.


Selain istilah syajaratun yang berasal dari bahasa Arab, terdapat kata- kata Arab lainnya yang memiliki arti hampir sama dengan kata syajaratun, seperti silsilah, riwayat atau hikayat, kisah, dan tarikh. Silsilah menunjuk pada keluarga dan nenek moyang. Pada kerajaan-kerajaan masa lampau, sering dibuat silsilah keluarga raja, yaitu mulai dari siapa pendiri kerajaan itu sampai pada raja yang sedang berkuasa. 

Sebagaimana telah dicontohkan di atas, dalam masyarakat ada tradisi pada saat merayakan idul fitri diadakan acara pertemuan keluarga besar dalam rangka silaturahmi. Dalam acara ini biasanya disampaikan silsilah keluarga itu, mulai dari siapa leluhurnya sampai dengan keluarga yang masih hidup. Riwayat atau hikayat dikaitkan dengan cerita yang diambil dari kehidupan, baik perorangan maupun keluarga. Riwayat dapat berarti laporan atau cerita tentang kejadian. Hikayat yaitu cerita tentang kehidupan yang menjadikan manusia sebagai objeknya atau disebut dengan biografi. Kata biografi berasal dari kata bios yang artinya hidup dan gravein yang artinya menulis. Jika objek cerita kehidupan manusia itu seseorang, diri sendiri, disebut autobiografi.


Pada saat ini banyak sekali para tokoh yang membuat biografi atau autobiografi dirinya. Para tokoh ini berasal dari berbagai kalangan, baik dari kalangan politisi, pejabat, pengusaha, maupun kalangan lainnya. Mereka menulis biografi atau autobiografi dengan harapan masyarakat dapat mengetahui sepak terjang perjuangan hidupnya. Biografi atau autobiografi ditulis biasanya dalam rangka memperingati ulang tahunnya dalam usia-usia tertentu, misalnya dalam rangka ulang tahun ke-70 dan ke-60.


Kata Arab lainnya yang sama dengan syajaratun yaitu tarikh dan kisah. Tarikh dalam bahasa Arab secara umum menunjuk ke masa lampau, juga lebih mengandung arti cerita tentang kejadian yang benar-benar terjadi pada masa yang lampau. Tarikh menunjukkan tradisi dalam sejarah Islam seperti tarikh nabi, tarikh Islam, dan sebagainya.
 
Selain kata-kata Arab, terdapat pula dalam bahasa-bahasa di Nusantara kata-kata yang artinya mirip dengan sejarah. Kata-kata tersebut seperti babad dalam bahasa Jawa, tambo dari bahasa Minangkabau, pustaka dan cerita. Kata babad menurut Pigeud berarti cerita sejarah. Selain itu, kata tersebut dapat pula diartikan dalam bahasa Jawa yang berarti “memangkas”. Hasil dari pem-babad-an ini ialah suasana terang. Kalau babad dikaitkan dengan kata sejarah, berarti sejarah itu bertugas memberikan penerangan tentang suatu keadaan.


Istilah lainnya yang berasal dari kata asing yang sama dengan kata sejarah yaitu history dari bahasa Inggris, geschichte berasal dari bahasa Jerman, dan gechiedenis berasal dari bahasa Belanda. History berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu historia (dibaca istoria), yang berarti “belajar dengan cara bertanya-tanya”. Menurut filosof Yunani Aristoteles, historia berarti pertelaan sistematis mengenai seperangkat alam, tanpa mempersoalkan susunan kronologis. 

Dalam perkembangannya, istilah history sama dengan istilah scientia yang artinya pertelaan sistematis nonkronologis tentang gejala alam. Adapun historia lebih diartikan sebagai pertelaan mengenai gejala-gejala (terutama hal ihwal manusia) dalam urutan kronologis. Dengan demikian, istilah history pada mulanya bukanlah berarti sejarah dalam pengertian sekarang, tetapi lebih dekat sebagai ilmu pengetahuan atau sains.


Dalam perkembangan kemudian, kata historia berarti sesuatu yang telah terjadi. Istilah ini sama dengan kata geschichte, berasal dari kata geschehen, yang berarti terjadi; dan gechiedenis, berasal dari kata geschieden, yang berarti terjadi. Kata historia yang berasal dari bahasa latin tersebut masuk  ke dalam bahasa-bahasa Eropa lainnya. Misalnya historie atau l’hisrorie dalam bahasa Prancis, history dalam bahasa Inggris, dan istorya dalam bahasa Rusia.